Kabarito.id – Imbauan pemerintah agar jemaah umrah Indonesia memilih penerbangan langsung (direct flight) ke Arab Saudi dan tidak singgah di negara lain, termasuk Malaysia dan Singapura, dinilai tidak membebani penyelenggara perjalanan umrah di Sumatera Barat (Sumbar).
Direktur PT Cordoba Berkah Mandiri Tour and Travel, H. Deri Oktaviandi, Lc., MA, menyatakan perusahaannya sudah melayani jemaah dengan rute langsung dari Sumbar ke Arab Saudi. Dengan begitu, anjuran pemerintah tersebut nyaris tidak mengubah pola layanan yang selama ini dijalankan.
“Untuk area Sumbar, kami rasa imbauan pemerintah ini tidak memberatkan bagi kami. Pasalnya, kami juga melakukan penerbangan langsung dari Sumbar ke Arab Saudi dalam melayani jemaah umrah,” ujar Deri, Rabu (28/10/2026).
Antisipasi Gangguan Penerbangan di Timur Tengah
Menurut Deri, kebijakan itu patut dipahami sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan terganggunya penerbangan akibat meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah. Penutupan wilayah udara atau perubahan operasional maskapai berpotensi membuat jemaah tertahan di tengah perjalanan.
“Saya rasa yang ditakuti pemerintah salah satunya jemaah tertahan karena risiko keamanan penerbangan di kawasan Timur Tengah yang saat ini sering terjadi konflik antarnegara. Jika tertahan di sini (Bandara Internasional Minangkabau), jemaah masih aman, dekat dengan keluarga,” jelasnya.
Imbauan dari Kementerian Haji dan Umrah
Sebelumnya, Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak mengimbau jemaah memilih penerbangan langsung ke Jeddah atau Madinah. Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) juga terus berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk memantau perkembangan situasi di kawasan tersebut.
“Kami sebagai pihak yang mengelola haji dan umrah mengimbau jemaah memilih maskapai direct, bukan penerbangan transit. Lebih aman bisa direct ke Jeddah atau Madinah. Jadi kami sarankan itu,” ujar Dahnil dalam keterangan resmi Kemenhaj, Rabu (28/10/2026).
Dahnil memastikan bahwa hingga Senin (26/10/2026), situasi di Arab Saudi masih kondusif untuk pelaksanaan ibadah umrah. Aktivitas jemaah di Tanah Suci disebut tetap berjalan normal, meski ketegangan geopolitik di kawasan itu meningkat.
Dorongan bagi Maskapai Nasional
Selain faktor keamanan, pemerintah ingin memperkuat peran maskapai nasional dalam melayani perjalanan umrah. Dahnil menyebut sekitar 70 ribu jemaah Indonesia saat ini memakai penerbangan transit melalui Malaysia dan Singapura. Angka itu dinilai sebagai peluang bagi maskapai nasional, seperti Garuda Indonesia dan Lion Air, untuk memperbesar pangsa pasar penerbangan umrah.
“Kita harus dorong dua maskapai nasional kita, yaitu Lion dan Garuda,” katanya.
Peluang dari Bandara di Sumatera
Di balik imbauan itu, terbuka peluang bagi penerbangan umrah langsung dari sejumlah bandara di Sumatera, yakni Bandara Internasional Minangkabau (BIM) di Sumbar, Kualanamu di Sumatera Utara, dan Sultan Iskandar Muda di Aceh. Ketiganya berada di wilayah barat Indonesia dan memiliki posisi strategis untuk rute menuju Arab Saudi.
Data jarak penerbangan menunjukkan rute Padang–Jeddah sekitar 7.075 kilometer, sedangkan Kuala Lumpur–Jeddah sekitar 7.070 kilometer. Artinya, jarak geografis Padang ke Jeddah relatif setara dengan Kuala Lumpur ke Jeddah.
Meski begitu, sejumlah faktor turut memengaruhi keputusan maskapai dalam menentukan bandara penghubung (hub), antara lain mahalnya harga avtur di Indonesia, ketersediaan armada, jaringan penerbangan, dan jumlah penumpang. Harga bahan bakar yang kompetitif di suatu negara dapat menjadi pertimbangan penting untuk menekan biaya operasional penerbangan.
Imbauan pemerintah ini sekaligus menjadi momentum bagi penyelenggara umrah, maskapai, dan pengelola bandara untuk mengevaluasi peluang memperkuat konektivitas penerbangan dari Sumbar menuju Arab Saudi. (*)













