Kabarito.id – Anak yang mendadak mudah menangis dan marah saat lelah ternyata bukan semata persoalan perilaku. Kementerian Kesehatan RI mengingatkan bahwa kelelahan akibat kurang tidur dapat membuat balita sulit mengelola emosinya, sehingga tantrum lebih mudah terjadi.
Informasi tersebut dimuat dalam laman ayosehat.kemkes.go.id yang dikutip pada Minggu (25/10/2026). Tantrum disebut sebagai bagian yang wajar dari tumbuh kembang balita. Pada usia ini, anak masih belajar mengenali, mengelola, dan mengungkapkan emosinya.
Meski demikian, kurang tidur bukan satu-satunya pemicu tantrum. Kelelahan dapat membuat anak lebih sulit mengendalikan emosi, sehingga persoalan kecil yang biasanya mampu dihadapi terasa jauh lebih besar.
Dampak Kurang Tidur pada Otak Balita
Tidur bukan sekadar waktu untuk beristirahat. Tidur berperan penting dalam proses belajar, konsolidasi memori, dan pengaturan emosi. Saat anak kurang tidur, kemampuan otak dalam mengatur respons emosional ikut terpengaruh. Anak menjadi lebih mudah frustrasi, impulsif, dan kewalahan menghadapi rangsangan atau perubahan kecil.
Kemampuan balita mengatur emosi memang masih dalam tahap berkembang. Ketika rasa lelah ditambahkan, daya tahan mereka terhadap frustrasi kian terbatas. Karena itulah anak yang kurang tidur kerap tampak lebih rewel, sensitif, sulit diajak bekerja sama, dan mudah tantrum.
Empat Tanda Tantrum akibat Kurang Tidur
Tidak semua tantrum bersumber dari kurang tidur. Namun, empat pola berikut dapat menjadi petunjuk bahwa kelelahan turut berperan.
1. Muncul pada waktu yang sama setiap hari. Orang tua dianjurkan memperhatikan apakah tantrum lebih sering terjadi menjelang tidur siang atau tidur malam. Saat anak sudah lelah, toleransinya terhadap frustrasi menurun sehingga hal sepele lebih mudah memicu ledakan emosi.
2. Intensitas tidak sebanding dengan pemicunya. Biskuit yang patah, mainan yang tidak berada di tempat yang diinginkan, atau permintaan memakai sepatu bisa berujung tangisan besar. Hal ini tidak berarti anak berlebihan. Ketika sangat lelah, kemampuan mereka menghadapi kekecewaan memang dapat menurun.
3. Anak sulit ditenangkan. Pada kondisi terlalu lelah atau overtired, pengalihan perhatian, bujukan, atau permainan favorit yang biasanya ampuh mungkin tak lagi berhasil. Anak tampak sangat kewalahan dan memerlukan waktu lebih lama untuk kembali tenang.
4. Suasana hati membaik drastis setelah tidur. Orang tua dapat mengamati kondisi anak setelah tidur siang atau tidur malam yang cukup. Jika anak kembali ceria, lebih kooperatif, dan lebih mudah menghadapi frustrasi, kelelahan mungkin menjadi salah satu faktor yang memperburuk tantrumnya.
Langkah Orang Tua Saat Tantrum Terjadi
Saat anak tantrum, tujuan utama bukanlah menghentikan tangisan secepat mungkin. Orang tua diminta membantu anak melewati ledakan emosi dengan aman hingga sistem emosinya kembali tenang.
Dalam menghadapi tantrum, orang tua disarankan untuk tetap tenang dan berada di dekat anak. Stimulasi dan keramaian sebaiknya dikurangi bila memungkinkan. Perasaan anak dapat divalidasi dengan kalimat sederhana, dan pelukan atau sentuhan bisa ditawarkan jika anak menginginkannya. Orang tua perlu menghindari ceramah, ancaman, maupun penjelasan panjang selama anak masih sangat emosional. Setelah anak lebih tenang, barulah kejadiannya dapat dibicarakan. Selain itu, orang tua perlu memperhatikan apakah tantrum terjadi mendekati waktu tidur. Jika demikian, rutinitas tidur sebaiknya segera dijalankan.
Anak yang sedang kewalahan memerlukan bantuan orang dewasa untuk kembali tenang, proses yang disebut co-regulation. Bila tantrum muncul mendekati waktu tidur dan anak tampak sangat lelah, orang tua tidak perlu memaksakan aktivitas berikutnya. Anak dapat ditenangkan, lalu rutinitas tidur dimulai lebih awal bila memungkinkan.
Cara Mencegah Tantrum akibat Kelelahan
Ada lima langkah pencegahan yang disarankan.
Pertama, penuhi kebutuhan tidur sesuai usia. Kebutuhan tidur berubah seiring bertambahnya umur. Anak perlu mendapat kesempatan tidur malam dan tidur siang yang cukup untuk mendukung perkembangannya.
Kedua, jaga jadwal tidur tetap konsisten. Waktu tidur dan bangun yang relatif teratur membantu ritme sirkadian anak bekerja lebih optimal. Jadwal tidak harus sama persis setiap hari, tetapi sebaiknya tidak menyimpang terlalu jauh dari rutinitas biasa.
Ketiga, jangan menunggu anak terlalu lelah. Orang tua perlu mencermati jadwal tidur dan perubahan perilaku anak. Pada sebagian anak, tanda lelah bukan hanya menguap atau mengucek mata. Anak yang terlalu lelah justru bisa tampak makin aktif, rewel, impulsif, atau sulit diajak bekerja sama. Rutinitas tidur sebaiknya dimulai sebelum anak mencapai kondisi overtired.
Keempat, bangun rutinitas sebelum tidur yang konsisten. Kegiatan sederhana seperti mandi, mengenakan piyama, membaca buku, lalu mematikan lampu memberi sinyal bahwa waktu tidur sudah dekat. Rutinitas tidak perlu panjang. Konsistensi lebih penting.
Kelima, perhatikan kualitas tidur, bukan hanya jumlah jamnya. Anak bisa berada di tempat tidur selama 11 jam, tetapi tidurnya tetap kurang optimal bila berkali-kali terbangun sepanjang malam. Orang tua perlu waspada jika anak sering terbangun, butuh waktu lama untuk kembali tidur, mendengkur secara rutin, atau tetap tampak sangat lelah setelah bangun.
Bila masalah tidur menetap atau disertai dengkuran keras, kesulitan bernapas saat tidur, atau gejala lain yang mengkhawatirkan, orang tua dianjurkan berkonsultasi dengan dokter.
Tantrum Tidak Selalu soal Perilaku
Tantrum merupakan bagian normal dari perkembangan dan dapat dipicu banyak hal. Namun, ketika tantrum terasa lebih sering atau lebih intens, orang tua dianjurkan menengok kembali kebutuhan dasar anak. Apakah ia lapar, terlalu banyak stimulasi, sedang mengalami perubahan besar, atau sekadar sangat lelah?
Tidur yang cukup tidak akan menghilangkan tantrum sepenuhnya. Meski begitu, ketika kebutuhan tidur terpenuhi, anak memiliki kapasitas yang lebih baik untuk belajar mengelola emosi, menghadapi frustrasi, dan menjalani harinya.
Anak yang tampak makin sulit diatur tidak selalu membutuhkan disiplin lebih ketat. Bisa jadi, mereka hanya memerlukan lebih banyak istirahat. (*)







