Kabarito.id – Tim mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Universitas Negeri Padang (UNP) menggelar pelatihan pengolahan dedaunan lokal menjadi produk pangan bernilai jual tinggi. Kegiatan bertajuk Optimalisasi Potensi Sumber Daya Lokal melalui Pelatihan Pembuatan Dendeng Daun Singkong ini berlangsung di RW XVII, Kelurahan Parupuk Tabing, Kota Padang, Minggu (20/9/2026).
Dalam agenda pemberdayaan tersebut, sebanyak 12 mahasiswa yang tergabung dalam Kelompok 2 Rombel 3 PPG IPA UNP membimbing 20 warga sekitar. Tujuan utamanya adalah mengasah keterampilan masyarakat dalam mengolah bahan baku lokal agar mampu menciptakan peluang bisnis baru.
Perwakilan mahasiswa PPG IPA UNP, Annisa Nadhilla, menyampaikan bahwa penetapan lokasi pelatihan didasari oleh melimpahnya komoditas tanaman singkong di pekarangan maupun lahan warga setempat. Menurut dia, pemanfaatan bahan tersebut selama ini belum optimal.
“Kami memilih daerah ini karena begitu banyak warga menanam tanaman singkong yang selama ini lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan masakan sayuran,” kata Annisa.
Annisa menerangkan, kebiasaan warga yang sekadar mengolah daun singkong sebagai hidangan Dapur sehari-hari mendorong timnya menghadirkan terobosan olahan nabati berwujud dendeng.
“Kita memberikan pelatihan pembuatan dendeng daun singkong kepada 20 orang warga dengan tujuan agar warga dapat memproduksinya sendiri untuk meningkatkan ekonomi,” ujar Annisa.
Produk olahan vegetarian ini menawarkan diversifikasi pangan berbahan dasar tumbuhan yang cocok bagi konsumen yang menghindari konsumsi daging. Dari segi komposisi nutrisi, kudapan ini mengandung serat, klorofil, serta protein. Kerapian teksturnya yang renyah serta cita rasa gurih memungkinkan produk ini diproduksi dalam beragam selera, seperti varian original hingga pedas balado.
Dosen pengampu kegiatan, Dr. Fitri Arsih, S.Si., M.Pd., menegaskan bahwa program ini dirancang sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Proyek Kepemimpinan pada program PPG. Lewat skema ini, para calon pendidik dituntut tidak hanya menguasai teknik pembelajaran di kelas, melainkan turut aktif melayani masyarakat.
“Selain bertujuan sebagai pengabdian kepada masyarakat, pelatihan ini sekaligus menjadi sarana pengembangan jiwa kepemimpinan mahasiswa pelaksana,” kata Fitri.
Fitri menambahkan, agenda lapangan ini memberikan pengalaman praktis bagi para mahasiswa dalam merencanakan, menjalankan, hingga menginventarisasi hasil program penguatan kapasitas warga melalui perpaduan sains dan prinsip kewirausahaan.
“Produk ini merupakan bahan pangan bernilai ekonomis karena mengandung serat, klorofil, dan protein. Karena itu, dendeng daun singkong menjadi salah satu contoh bagaimana bahan pangan yang sederhana dan tersedia melimpah di lingkungan masyarakat dapat diolah menjadi produk inovatif,” tutur Fitri.
Ia menilai, transformasi komoditas yang sebelumnya minim nilai tambah ini berpotensi besar diserap oleh sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Strategi pengembangan rasa serta pengemasan kreatif dianggap mampu memperluas daya jangkau pasar.
“Selain menawarkan alternatif pangan berbasis nabati, dendeng daun singkong juga membuka peluang bagi masyarakat untuk meningkatkan nilai ekonomi tanaman singkong melalui kreativitas dan kegiatan UMKM,” kata Fitri.
Respons positif datang dari pihak lingkungan setempat. Ketua RW XVII Kelurahan Parupuk Tabing, Zuherdi, mengapresiasi inisiatif yang dibawa oleh akademisi UNP tersebut. Ia mengaku terkesan karena konsep dendeng yang umumnya identik dengan bahan daging sapi atau ayam kini dapat digantikan oleh dedaunan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada PPG UNP yang mau memberikan pelatihan pembuatan dendeng berbahan dasar daun singkong. Biasanya kami hanya mengenal dendeng yang terbuat dari daging. Hari ini mahasiswa PPG UNP memperkenalkan dendeng yang terbuat dari daun singkong,” ungkap Zuherdi.
Zuherdi memandang gagasan tersebut sangat selaras dengan ketersediaan bahan baku di pemukiman warga. Ia optimistis keterampilan anyar ini bisa diterapkan secara berkelanjutan.
“Kami berharap ke depan warga dapat mengembangkan produk ini sebagai salah satu usaha yang dapat meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar Zuherdi. (*)







